Press "Enter" to skip to content

Presiden Joko Widodo dan Wapres Jusuf Kalla Menghadiri Peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 di Istana Negara

berantasnews Jakarta

Presiden Joko Widodo dan Wakil Presiden Jusuf Kalla menghadiri peringatan Maulid Nabi Muhammad SAW 1436 H di Istana Negara, Jakarta, Rabu malam (23/12).

Presiden Jokowi didampingi istri Iriana Widodo dan Wapres Jusuf Kalla di dampingi Istri Mufida Kalla. Turut Hadir Juga Pimpinan Lembaga Negara, Duta Besar, Perwakilan Negara-Negara Sahabat dan Menteri kabinet kerja. Di antaranya yang hadir adalah Menteri Agama Lukman Hakim Syaifuddin, Menteri Bappenas Sofyan Djalil, Menteri Sosial Kofifah Indar Parawansa, Menteri Koordinator Perekonomian Rizal Ramli, Menteri Koordinator Kemaritiman Rizal Ramly, Menteri Kehutanan dan Lingkungan Hidup Siti Nurbaya, Menteri Agraria dan Tata Ruang Ferry Mursyidan Baldan, Menteri Luar Negeri Retno Marsudi, Sekretaris Kabinet Pramono Anung, Jaksa Agung HM Prasetyo, dan Wakil Gubernur DKI Jakarta Djarot Syaiful Hidayat.Dalam Acara Memperingati Maulid Nabi Muhammad SAW di mulai pukul 20.00 WIB , diawali pembacaan Ayat Suci Al Quran Dilanjutkan ceramah agama yang disampaikan Anggota Watimpres Hasyim Muzadi. Dengan Tema adalah Meneladani Integritas Karakter Rasul Dalam Bangun Karakter Bangsa. Presiden Joko Widodo Dalam Pidatonya mengatakan, Islam adalah agama yang mengajarkan kedamaian, Jokowi meminta agar orang-orang yang menganut radikalisme kembali ke jalan yang benar. “Saya mengajak umat Islam di seluruh Tanah Air untuk bersama-sama melindungi Bangsa dan Negara kita dari semua bentuk radikalisme dan terorisme seperti ISIS,” Tuturnya.

Lanjutnya, Jokowi memaparkan, mari kita sadarkan saudara-saudara kita yang memilih jalan yang salah dalam berdakwah dan menyiarkan Agama Islam,”Islam sesungguhnya mengedepankan toleransi dan membenci cara-cara kekerasan”. Umat Islam harus meneladani Rasulullah agar Indonesia bisa semakin maju ke depan menjadi Bangsa yang Besar dan Bermartabat,”lanjutnya.

“Sebagai umat Nabi Muhammad SAW, kita mempunyai tanggung jawab yang tidak ringan karena harus mampu menunjukkan sebagai umat yang terbaik, yakni umat yang senantiasa membangun solidaritas sosial di antara sesama manusia, umat yang tidak gampang dilanda kebencian, umat yang meneguhkan kebhinekaan, umat yang berkehendak merangkul dan bukan memukul eksistensi kelompok lain,”Saya meyakini, dengan meneladani Rasulullah, Indonesia akan menjadi bangsa yang bermartabat, bangsa yang beradab, makmur, dan sejahtera,” Pungkasnya.

KH.Hasyim Muzadi memberikan ceramah Dalam Perigatan Maulid Nabi Muhammas SAW, Hasyim Memaparkan, Banyak orang yang mengaku muslim, tetapi tidak meneladani teladan Rasulullah. Maka dalam ayat disebutkan, suasana batin haruslah suasana yang mengharap Ridho Allah, Seringkali seseorang merasa paling bisa hidup sendiri, sehingga jauh dari Allah. Maka itu, teladan Nabi Muhammad haruslah benar-benar dijalankan. Teladan Rasulullah itu ada tiga, Pertama adalah ketika turunnya Wahyu, kedua Isra Mi’raj, dan ketiga Perjalanan Hijrah.

Lanjutnya, Hasyim memaparkan, Tentang Nabi Muhammad SAW , Wahyu pertama yang diterima Nabi Muhammad SAW adalah ‘iqra’atau ‘baca’. Rasulullah SAW diminta untuk membaca, padahal beliau tidak bisa membaca pada saat itu. Tidak ditulis keterangan, apa yang harus dibaca? Dengan cara apa? Tetapi kalau dalam ahli tafsir, jika ada perintah tak diberi keterangan secara khusus, maka lakukanlah hal yang umum,”Bedanya kalau Rasulullah tidak bisa membaca pada saat itu maknanya luas. Berarti apa yang beliau sampaikan itu orisinil, bukan dari referensi mana pun, tetapi kalau kita tidak bisa baca, berarti kebodohan di mana-mana, Itu makanya ada perbedaan antara Rasulullah dengan kita, Jangan disama-samakan,” Tutur Hasyim.

Hasyim memaparkan, membaca pun bukan diartikan sekadar baca ayat Alquran, tetapi juga membaca tanda-tanda Allah. Selanjutnya adalah meneladani Isra Miraj. Saat ini banyak orang yang merasa karena sudah berzikir setiap hari, maka tidak harus bekerja.

Padahal, mengutip Imam Al Gazali, seharusnya dengan bekerja itu merupakan bentuk zikir. Keteladanan yang berikutnya adalah pada saat Rasulullah melakukan Hijrah. Beliau dan umatnya berpindah dari Makkah ke Madinah,” jelasnya.

“Pada saat itu dirumuskanlah Piagam Madinah. Kenapa bukan Piagam Negara Islam? Ini bukti kalau Rasulullah memandang persatuan adalah yang utama. Pada saat itu di Madinah tidak semua memeluk Agama Islam. Ada yang Yahudi, ada yang Kristen, bahkan ada yang agama masyarakat setempat. Oleh karena itu dirumuskanlah Piagam Madinah. Ini contoh dari Rasulullah sendiri, Bahwa kita tidak harus merasa besar sendiri, merasa menang sendiri,” Tuturnya.

Hasyim lalu bercerita Tentang kisah ketika Nabi Muhammad tiba-tiba berdiri saat ada iring-iringan pembawa jenazah melintas. Beliau berkata bahwa itu untuk menghormati orang yang meninggal tersebut. Tapi setelah itu ada yang beri tahu bahwa yang meninggal adalah Yahudi. Tetapi Rasulullah tetap menghormati. Beliau berkata, ‘dia juga manusia, kan?’. Padahal saat itu Islam sudah menjadi mayoritas di Madinah, ”Jadi janganlah membeda-bedakan hal yang sebetulnya sama,” Pungkasnya.(Ray,Mhd,Abenk).