Press "Enter" to skip to content

Generasi Diantara Titipan Dan Anugrsh Tuhan. Oleh : Mayor Arh Trijaka Ruhiyatna*

berantasnews, Kediri.
Faktor-faktor yang mempengaruhi terjadinya kekerasan dalam rumah tangga, lebih cenderung berawal dari kondisi ekonomi keluarga, yang pada akhirnya berimbas pada anak.

Tanpa disadari maupun tidak disadari prosentase tidaklah menjadi persoalan, melainkan seberapa keterpengaruhnya generasi penerus bangsa menjadi tulang punggung kelak dimasa datang. Statistik tidak bisa di patok sebagai nilai yang stabil dibandingkan dampak buruk bagi pola pikir seorang anak.

Tanpa harus mengabaikan kondisi negara lain di kawasan timur tengah, hasil survey suatu lembaga yang dikelola oleh Sat7 Arabia, membuktikan bahwa kecenderungan sifat dan perilaku kekerasan yang diterima oleh anak, akan berdampak pada ketika ia dewasa kelak.

Sebagai bukti nyata, regenerasi aksi terorisme yang terjadi di Suriah dan Iraq, merupakan hasil kekerasan yang diterima oleh anggota ISIS, ketika masih anak-anak. Buah dari perilaku buruk orang tua terhadap anak, mengakibatkan sejumlah anggota ISIS, mayoritas adalah hasil ciptaan perilaku kekerasan pada rumah tangga.

Selain itu, fenomena kekerasan yang ada di Pakistan, juga muncul tidak secara tiba-tiba, melainkan perlahan demi perlahan tetapi pasti ,berawal dari perilaku orang tua yang mengabaikan identitas dari anak sebagai “Titipan & Anugerah Tuhan”. Sejumlah generasi muda Pakistan dengan bersemangat dan berani menghadapi tantangan-tantangan kehidupan sekaligus, yaitu “Hidup & Mati”.

Mereka cenderung berasal dari keluarga yang tidak harmonis dan berlatar belakang dengan begitu banyak kekerasan yang diterima, pada ujungnya menjadi sinyal “Merah” untuk memiliki hati & nurani, yang pada akhirnya bergabung dengan kelompok militan bersenjata Al Qaida, sambil menebar “Teror”.

Negeri yang tak pernah damai seperti Afghanistan juga hampir mirip dengan Pakistan, semua berawal dari penanaman perilaku buruk orang tua, dengan akar kebencian dan pupuk kekerasan, yang akhirnya membuahkan “Kematian Pikiran, Hati & Perasaan”.

Sebagaimana dirilis dari Al Jazerra, sejumlah anggota Taliban, yang tewas dalam suatu pertempuran melawan Pasukan Pemerintah, diketahui begitu banyak yang masih dibawah umur. Bukti yang tidak dapat dihindari bahwa faktor yang mungkin bisa dianalisa secara transparan, menjadi faktor yang mempengaruhi perekrutan anggota Taliban di Afghanistan.

Menoleh dari kondisi negeri sendiri, kekerasan terjadi dimana-mana lebih cenderung faktor ekonomi sebagai dasar pelampiasan kekerasan terhadap anak, yang notabene tidak tahu apa-apa.

Secara pasti walau perlahan kondisi anak yang ada di Indonesia seakan tidak pernah putus dari segala permasalahan yang berakar dari konflik rumah tangga. Bahkan keluarga mapan sekalipun bisa menjadi lahan perubahan sikap & perilaku anak, akibat keretakan rumah tangga yang diakibatkan suatu “Tragedi Perceraian”.

Keharmonisan dalam suatu rumah tangga, memang menjadi polemik utama sebagai awal pembangunan karakter seorang anak, tetapi hal tersebut tidak menjadi landasan pokok.

Fakta-fakta yang disebutkan tadi, tidak dapat dipungkiri sebagai penyebab hancurnya Generasi Emas yang digadang-gadang sebagai “Pelaku Kejayaan Indonesia”. Bukan tanpa sebab akibat bila seorang anak kelak dewasa berubah total sifat dan perilakunya ,karena segala sesuatu pasti “Hukum Timbal Balik” berlaku ,selagi manusia itu masih mau disebut sebagai “Manusia”.
*Penulis adalah Kasdim – Kodim 0809/Kediri.,(BN)