Press "Enter" to skip to content

AL Zaytun Model Toleransi Dan Perdamain Dunia

BN, Indramayu – Pasca kunjungan Pemuka masyarakat, Pemuka Agama, Politisi ke Al Zaytun pada saat peringatan 1 muharam berbagai tanggapan positif yang di sampaikan khusunya pemuka agama di antaranya,

Tanggapan Frans Magnis Suseno, Tokoh katolik mengaku kepemimpinan Islam di Palestina selama 1400 tahun mampu mewujudkan kedamaian. Namun Setelah terjadi perebutan kekuasaan belakangan ini menjadi kacau.
DiCeritakan Romo, ada pengalaman delegasi kristen dari Yaman bertemu nabi Muhammad di Madinah. Dalam proses pertemuan delegasi minta diberi waktu dan tempat untuk melaksanakan Misa, oleh nabi Muhammad mereka diizinkan melaksanakannya di Masjid. Kejadian tersebut membuktikan bahwa Islam bersifat toleran.

20161007_165745
Tanggapan dari Pastor DR Darmin Mbula (Ketua presideum Majelis Nasional Pendidikan Katolik,
“Saya merasakan bahwa kita belajar banyak dari Pesantren Alzaitun untuk menjunjung tinggi persatuan Indonesia. Perayaan bersama ini memberikan pesan kepada seluruh dunia bahwa persatuan dan persaudaraan Indonesia sungguh nyata ada. Dan itu saya rasakan dengan perayaan di Alzaitun. Alzaitun sudah menjadi tempat yang cocok untuk merawat dan memelihara budaya toleransi perdamaian bangsa bangsa. Semoga semakin banyak orang orang untuk belajar di Alzaitun demi membangun persatuan Indonesia,” DR. V Darmin

Tanggapan P Theo Wargito (nasrani) setelah hadir acr 1 muharam,
“Setelah saya berkunjung dua kali ke Al Zaytun
“saya akan bersaksi ke setiap orang. Untuk mengatakan Pusat budaya toleransi terkuat dan terbesar di negeri ini adalah Al Zaytun.

Ia menambahkan, “Al Zaytun dan Syekh A S Panji Gumilang beserta seluruh unsur teruslah berkarya, teruskanlah misimu, Dunia ini memerlukan kedamaian dan toleransi seperti yang sudah dilakukan,” ucap Theo Wargito

Dewa Made Budiana. Pria asal Bali yang mewakili tokoh agama Hindu dari Cirebon ini menyampaikan, “walaupun baru pertama kali saya datang kesini (Al-Zaytun ), saya mempunyai kesan yang sangat luar biasa.” ungkapnya. ” dengan pengelolaan alam, pendidikan yang sudah menyatu dengan alam seperti Al-Zaytun ini, bisa saya gambarkan ibarat sebuah keris dan sarungnya, sudah klop. “Al-Zaytun ini bagaikan hutan kota. Saya sangat menghargai undangan ini, disini ada nilai yang menghilangkan sekat sekat, terbukti banyak tokoh lintas agama disini,” terangnya dengan perasaan kagum.