Press "Enter" to skip to content

Petani Gunung Kerinci Kembangkan Aneka Produk Olahan Hortikultura

Kerinci – Siapa yang tidak kenal dengan Gunung Kerinci?  Gunung tersohor dan tertinggi di Sumatera dengan keindahanTaman Nasional Kerinci Seblat. Baru saja menginjakkan kaki di Kerinci, bentangan lahan pertanian sudah mengajak untuk bercengkerama. 

Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Kabupaten Kerinci, Rieke Evriyantos menyebutkan bahwa selain sebagai sentra produksi hortikultura, daerah ini juga kaya aneka produk olahan hortikultura. Mereka ini adalah para petani muda kreatif. Produk olahan memberikan nilai tambah dan daya saing produk hortikultura.

“Wilayah dengan agro ekosistem lahan kering dataran tinggi iklim basah sangat sesuai dijadikan kawasan pengembangan hortikultura, khususnya komoditas sayuran dataran tinggi,” ucap Rieke.

Pendapat sama ditambahkan Kepala Bidang Tanaman Pangan dan Hortikultura Provinsi Jambi Mahalya Anidar, “Penggunaan lahan di kabupaten ini sebagian besar dijadikan sebagai usaha tani yang didominasi tanaman sayuran dataran tinggi terutama kentang, kubis, cabai, bawang merah, bawang putih dan wortel.”

Mahalya menjelaskan, dengan karakteristik pH dan kejenuhan basa cenderung tinggi, konsisitensi gembur, tingkat kesuburan tergolong sedang sampai tinggi serta tanah dominan yang terbentuk dari bahan vulkanik dan endapan sehingga sangat mendukung untuk pengembangan komoditas hortikultura. 

“Perlu kreativitas petani dan kelompok usaha lainnya untuk mendukung usaha pasca budidaya, sehingga produksi yang tinggi dapat ditindaklanjuti dengan usaha hilirasi yang baik untuk menjaga stabilisasi harga,”lanjutnya.

Berikutnya dilakukan kunjungan ke KUB Sejahtera, penerima bantuan APBN 2018 yang berlokasi di Desa Sungai Sikai, Kecamatan Gunung Tujuh Kabupaten Kerinci. Neni Armida, selaku Ketua KUB Sejahtera menjelaskan bahwa usaha pengolahan bawang merah segar menjadi bawang goreng ini mencapai 160 – 240 kg kering per bulan dengan total kebutuhan bahan baku sekitar 800 – 1.200 kg.

“Kami tidak kesulitan dalam pemenuhan bahan baku karena sebagian anggota merupakan petani bawang merah. Selain itu produksi bawang merah di Kecamatan Gunung Tujuh selalu melimpah sehingga usaha kami selalu full pesanan,” ungkapnya semangat.

Neni memaparkan, jika menggunakan harga rata – rata bawang merah basah sekitar Rp 10 ribu per kg, dan KUB menjual seharga Rp 150 ribu per kg dengan konversi basah ke kering 5 : 1.  Maka keuntungan usaha taninya dalam satu bulan untuk kapasitas olahan 1.200 kg basah bisa memperoleh keuntungan Rp 36 juta.

“Nilai ekonomis yang menjanjikan bukan? Selama ini penjualan untuk memenuhi permintaan dari restoran, rumah makan, pasar lokal Kerinci, Tebing Tinggi dan kafe terus meningkat. Untuk itu kami berharap ke depannya kapasitas produksi dapat terus meningkat,” harapnya.

Dirinya juga bersyukur dengan bantuan Kementerian Pertanian berupa sarana pengolahan hortikultura sehingga efisiensi waktu dan tenaga kerja dapat meningkat. Dengan demikian biaya produksi dapat ditekan. 

Kasubdit Pengolahan Hasil Hortikultura, Diah Ismayaningrum menjelaskan bahwa pada 2018, KUB Sejahtera mendapatkan alokasi bantuan sarana pengolahan bawang merah berupa mesin perajang bawang, wajan penggorengan, kompor gas, baki, spinner, sealer dan timbangan.

“Peralatan ini sangat membantu kelompok dalam meningkatkan kapasitas usaha pengolahan dan menurunkan biaya tenaga kerja. Tadinya tenaga kerja butuh 10 orang sekarang berkurang dan menjadi tiga orang saja,” ungkapnya.

Ditemui di tempat berbeda, Direktur Pengolahan dan Pemasaran Hasil Hortikultura, Yasid Taufik menambahkan bahwa bantuan fasilitasi sarana pengolahan yang diberikan memiliki target dan tujuan untuk meningkatkan nilai tambah dan daya saing selain merupakan salah satu solusi panen raya.

“Harapan selanjutnya, kami meminta agar penerima bantuan juga dapat kreatif dan inovatif sehingga bentuk olahan baik mutu, jenis dan kemasannya dapat bersaing dengan produk negara lain,” tutupnya. ( dino )